PRESS RELEASE
Kolokium Astronomi OAIL 2023 #2
Riset Multidisiplin Menggunakan Teleskop Radio VLBI
Rabu, 24 Mei 2023
Selain mengembangkan instrumen astronomi pada panjang gelombang optik, Observatorium Astronomi ITERA Lampung juga memiliki upaya untuk mengembangkan instrumen astronomi pada panjang gelombang radio. Oleh karena itu OAIL melaksanakan Kolokium seri ke-2 ini dengan tema “Riset Multidisiplin Menggunakan Teleskop Radio VLBI” yang bertujuan untuk memperluas wawasan civitas akademika di ITERA tentang teleskop radio dan meningkatkan peluang kerjasama melalui riset multidisiplin.
Kolokium ini dihadiri oleh hampir 200 peserta yang terdiri dari masyarakat umum dan civitas akademika ITERA. Acara ini dibuka dengan sambutan dari Dr. Moedji Raharto selaku kepala OAIL. Pada sambutannya, Dr. Moedji Raharto berharap dengan kolokium ini dapat menginspirasi dan motivasi seluruh peserta untuk melakukan berbagai bentuk penelitian maupun kerjasama yang dapat berkontribusi pada pengembangan instrumentasi yang ada di OAIL.
Untuk mengawali paparan materi, Dr. Ibnu Nurul Huda terlebih dahulu bercerita tentang sejarah dicetuskannya teknik VLBI. Pada pengamatan astronomi radio, resolusi citra yang tinggi dapat diperoleh jika diameter teleskop yang digunakan cukup besar. Namun, semakin besar diameter teleskop radio tersebut, biaya operasionalnya juga semakin tinggi. Untuk menyelesaikan masalah itu, teknik VLBI (Very Long Baseline Interferometry) muncul sebagai solusi. VLBI adalah sebuah teknik pengamatan yang menggunakan beberapa teleskop radio yang tersebar di berbagai tempat di Bumi, seluruh teleskop ini secara simultan mengobservasi objek luar angkasa yang sama. Sinyal yang diterima oleh beberapa teleskop tersebut kemudian digabungkan untuk mendapatkan hasil pengamatan dengan resolusi tinggi. Dengan teknik ini, peneliti bisa memperoleh citra resolusi tinggi tanpa harus membuat teleskop radio yang sangat besar.
Selain itu, Dr. Ibnu Nurul Huda lebih dominan membahas penggunaan teleskop VLBI untuk keperluan di luar bidang astronomi dengan harapan adanya kolaborasi antara astronom dengan peneliti di bidang ilmu lainnya. Salah satu bidang yang dibahas adalah Geodetic VLBI, yaitu jejaring teleskop VLBI yang berkontribusi pada penelitian geodesi. Lebih dari 30 stasiun VLBI untuk keperluan geodesi tersebar di seluruh dunia, namun sayangnya distribusi teleskop tersebut saat ini belum merata karena masih didominasi oleh area di belahan Bumi Utara. Distribusi yang tidak merata ini membuat kualitas pengamatan geodetic VLBI menjadi kurang baik. Hal ini membuat peran Indonesia cukup penting untuk meningkatkan jumlah teleskop di belahan Bumi Selatan agar berkontribusi dalam peningkatan kualitas pengamatan geodetic VLBI.
Adapun informasi yang dapat diperoleh dari penelitian geodetic VLBI, sebagai berikut
- Menghasilkan ICRF (International Celestial Reference Frame), yaitu kerangka referensi yang digunakan untuk menentukan posisi benda langit. Selain itu juga berkontribusi pada ITRF (International Terrestrial Reference Frame), yaitu kerangka referensi untuk menentukan posisi di Bumi.
- Monitoring perubahan posisi lempeng tektonik Bumi.
- Monitoring posisi satelit, variasi sumbu rotasi Bumi (penting untuk pengukuran dengan akurasi tinggi seperti penentuan waktu).
- Menentukan parameter atmosfer Bumi..
- Menentukan ketinggian permukaan laut.
Dengan beragamnya manfaat VLBI tersebut menjadikan VLBI menjadi sebuah teknik pengamatan yang berguna bagi banyak bidang ilmu. Beberapa proyek teleskop VLBI yang sedang dikembangkan di Indonesia ada 4 tempat yaitu di Jatiluhur, Observatorium Bosscha, Parepare, dan Timau.
Sebagai penutup, narasumber menyampaikan bahwa teleskop VLBI tidak hanya bermanfaat bagi bidang astronomi saja tapi juga banyak bidang lainnya. Harapannya semoga Indonesia bisa punya kontribusi lebih besar untuk proyek VLBI ini, baik dari segi sisi astronomi maupun bidang multidisiplin lainnya.
















