[Dark Sky Week] Waktunya kita merenungkan kembali mengenai pengaruh polusi cahaya di sekitar kita

PRESS RELEASE

09 Mei 2023

Pengamatan Kecerlangan Langit dan Efek Polusi Cahaya di Berbagai Kota

International Dark Sky Week 2023

Bagaimana polusi cahaya mempengaruhi terangnya langit malam? 

International Dark Sky Week diadakan selama minggu bulan baru di bulan April (21-28 April 2023), ketika orang-orang di seluruh dunia dapat mematikan lampu mereka untuk mengamati keindahan langit malam tanpa polusi cahaya. Peristiwa ini selalu terjadi pada bulan April, pada minggu bulan baru agar langit bisa dibuat segelap mungkin untuk kondisi pandang yang optimal. Tujuan dari acara ini adalah untuk mengurangi sementara polusi cahaya dan tingkatkan kesadaran tentang pengaruhnya terhadap langit malam, mendorong penggunaan sistem pencahayaan yang lebih baik yang mengarahkan cahaya ke bawah daripada ke langit, dan mempromosikan studi astronomi.

Adanya peringatan IDSW ini berbarengan dengan ekspedisi tim Aruna Leste yang sedang melakukan perjalanan ke daerah Lautem, Timor-Leste. Tim berhasil mengabadikan keindahan langit dari berbagai tempat selama perjalanan: Bandar Lampung, Kupang, Tilong, Com, dan Pantai Airleu.

Apa itu polusi cahaya? 

Polusi cahaya adalah adanya pencahayaan buatan yang tidak diinginkan, tidak sesuai, atau berlebihan. Dalam pengertian deskriptif, istilah polusi cahaya mengacu pada efek dari pencahayaan yang diterapkan dengan buruk, siang atau malam hari. 

Pada gambar terlampir, kita bisa melihat perbedaan kondisi langit di beberapa daerah dengan kondisi polusi cahaya yang berbeda. Tim kami mengambil contoh foto di area langit yang sama (rasi Crux, dan sebagian Carina) di Bandar Lampung, Kupang, Tilong, Pantai Airleu Timor-Leste, dan Com Timor-Leste. Kelima gambar tersebut difoto dengan kamera dan pengaturan yang sama. Kami menggunakan Nikon 1 J5.

Bisa kita lihat, bahwa langit latar belakang di Bandar Lampung relatif lebih terang dibandingkan dengan lokasi lainnya, meski tempat pengambilan gambar (Sukarame) masih termasuk ke dalam area sub urban, kita sudah agak sulit untuk mengamati bintang yang ada. 

Dibandingkan dengan tempat lain yang minim polusi cahaya, misalnya Kupang dan Tilong di NTT, kondisi langit dua tempat ini relatif lebih baik. Kita bisa melihat bintang-bintang yang tidak bisa diamati di Bandar Lampung dengan mudah. 

Jika kita membandingkannya dengan tempat yang tingkat polusi cahayanya sangat minim seperti di Com, Timor Leste, maka kita bisa benar-benar memahami bahwa jika langit kita tidak terdapat polusi cahaya, maka langit malam akan nampak indah dan cantik dengan bintang-bintang yang bertaburan di langit. Bahkan kita bisa mengamati Bima Sakti secara kasat mata dengan sangat mudah. 

Bagaimana kita mengatasi polusi cahaya ini? 

Tentu saja disesuaikan dengan kemauan dan kemampuan kita.  Hal yang sederhana seperti tidak menghamburkan cahaya ke langit, maupun menggunakan lampu berdaya rendah dan mengarahkannya ke tempat yang memang diperlukan saja. Tindakan tersebut sudah cukup membantu mengurangi polusi cahaya di sekitar kita. Jika memiliki kekuatan lebih, bisa diimplementasikan dengan membuat kebijakan-kebijakan kampus atau daerah untuk menjaga keindahan langit malam yang pastinya dirindukan oleh banyak orang. Apakah kita sebagai manusia tidak ingin sejenak beristirahat di bawah taburan bintang di alam semesta? Sebuah pertanyaan retorik yang perlu kita jawab dengan aksi nyata.

Tulisan ini dibuat dalam rangka peringatan International Dark Sky Week 2023, untuk mengingatkan kembali pentingnya langit malam, tidak hanya bagi manusia, akan tetapi juga bagi makhluk hidup lainnya. Lebih lengkapnya silahkan buka di https://idsw.darksky.org/ dan https://www.darksky.org/.

Keterangan pengambilan gambar : 

Kupang, Tilong, Com, Airleu = eksposur 25 detik, ISO 1600, f/3.5

Bandar Lampung = eksposur 25 detik, ISO 400, f/3.5 (langit cukup terang jika menggunakan ISO lebih tinggi)

Gambar 1 : Kondisi langit di Bandar Lampung (Sukarame), cukup terang dengan kondisi polusi cahaya yang lumayan tinggi (Bortle 6).

Gambar 2 : Kondisi langit di Kupang (Hotel Amaris), kondisi langit cukup terang dengan kondisi polusi cahaya yang lumayan tinggi (Bortle 5).

Gambar 3 : Kondisi langit di Tilong, Lokasi Science Center untuk Observatorium Nasional BRIN. Kondisi langit bagus untuk pengamatan, jauh dari sumber polusi cahaya, (Bortle 3).

Gambar 4 : Kondisi Langit di Com, Timor Leste, diambil di dekat sekolah, masih ada sedikit cahaya ke arang langit, akan tetapi langit sudah gelap total jika dilihat dengan mata manusia, lengan galaksi cukup mudah dilihat. Kondisi polusi cahaya sangat rendah (Bortle 2)

Gambar 5 : Kondisi langit di Pantai Airleu, Com. Hampir tidak ada cahaya buatan manusia, bintang-bintang cukup mudah dilihat dengan mata telanjang, nebula gelap di pusat dan lengan galaksi cukup mudah dibedakan dengan langit. Langit terbaik. (Bortle 1.5)